organic rice

Tuesday, September 18, 2007

Pertanian Organik Menguntungkan

PERANAN PERTANIAN ORGANIK DALAM PERTANIAN BERKELANJUTAN

DAN PELUANG PENERAPANNYA DI INDONESIA

Oleh:
Hardy Benry Simbolon
rp: P062024184
E-mail: benry@nakertrans.go.id

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada tahun 1950-an, pertanian masih bersifat tradisional, bahan kimia belum digunakan secara ekstensif serta belum muncul masalah polusi kimia. Pertanian tradisional terfokus pada basis produksi dan konsumsi rumah tangga. Tradisi ini berhubungan dengan strategi polikultur yang meniru lingkungan alam yang didasari atas masukan tenaga kerja tanpa membutuhkan masukan lainnya, yang menyebabkan ketergantungan dari luar. Strategi seperti itu telah terbukti berkesinambungan pada tingkat rumah tangga dalam jangka waktu yang cukup lama.

Kebutuhan produksi pangan yang meningkat secara cepat akibat pertambahan penduduk serta pertumbuhan sektor industri yang cepat mendorong munculnya sistem pertanian modern. Ciri-ciri pertanian modern adalah ketergantungannya pada input pupuk anorganik dan kimia sintetis yang tinggi untuk pengendalian hama dan gulma, dan didasarkan pada varietas tanaman monokultur. Pertanian modern ini telah menyebabkan kemerosotan sifat-sifat tanah, percepatan erosi tanah, penurunan kualitas tanah dan kontaminasi air bawah tanah (Allen and van Dusen 1988). Beberapa negara industri telah sadar akibat dari hal tersebut dan memperkenalkan pertanian organik untuk menggantikan pertanian yang tergantung pada bahan kimia.

Pertanian organik telah menjadi industri yang berkembang di seluruh dunia baik negara-negara beriklim tropis maupun sedang. Dengan pertanian organik, petani memperoleh manfaat keunggulan pasar dengan “eco-labels” dan skim pemasaran akrab lingkungan lainnya. Pasar produk pertanian organik akan sangat menjanjikan karena meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap gaya hidup sehat dan gerakan kembali ke alam. Apabila dihayati, keuntungan ekonomi yang diperoleh dari potensi produksi pangan organik akan cukup besar, terutama karena pasar Amerika dan Eropa tampaknya menjanjikan untuk dapat dijadikan sasaran ekspor pangan organik.

Teknologi untuk pertanian organik telah dikenal selama beberapa dekade. Pemakaian teknologi ini dapat memberi keuntungan ekonomi dan meningkatkan kesuburan tanah. Namun demikian, pertanian organik ini belum dapat berkembang secara meluas. Hal ini disebabkan para petani pada umumnya terlanjur terbiasa memproduksi pangan dengan cara-cara yang diketahuinya, yaitu dengan pemberian pupuk kimia serta pestisida secara berlebih-lebihan.

Indonesia masih tergolong sebagai negara terbelakang dalam pengembangan produk pangan organik, sementara peluang pasar produk pertanian organik cukup besar, untuk ekspor maupun memenuhi permintaan kaum expatriate yang berada di kota-kota besar dan masyarakat kelas menengah ke atas yang jumlahnya terus bertambah. Secara umum, permintaan produk pangan organik akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan daya beli masyarakat.



1.2 Tujuan dan Sasaran Makalah

Tujuan

Memahami peranan pertanian organik dalam pembangunan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture development).


Sasaran

Pengenalan sistem pertanian organik dan pertanian berkelanjutan.




II. PERTANIAN BERKELANJUTAN DAN PERTANIAN ORGANIK

Konsep pertama dari evolusi pertanian berkelanjutan muncul pada awal 1980-an. Konsep pertama ini bertujuan membangun pertanian berdasarkan interaksi ekologis. Konsep kedua mulai tahun 1987, mulai banyak menggunakan istilah sustainable dengan arti pertanian yang stabil dalam arti ekosistem, dan melibatkan aspek pertanian dan interaksinya dengan masyarakat.
Didalam melaksanakan sistem pertanian berkelanjutan komponen-komponen yang harus dikelola, dari berbagai komponen yang paling penting adalah:

a. pengelolaan nutrisi tanah

b. rotasi tanaman

c. karakteristik ekologi dan agronomi

d. bioteknologi dan pemuliaan tanaman

e. pengendalian hama

f. penggembalaan dan peranan hewan
Pertanian berkelanjutan dapat diterapkan melalui berbagai metoda, temasuk metoda pertanian organik, dengan syarat pemberian material organik dan input kimia minimum.
Pengurangan pemakaian bahan kimia adalah suatu strategi untuk pertanian berkelanjutan di negara-negara industri, tetapi tidak untuk negara-negara berkembang dimana pemakaian input kimia pertanian umumnya masih menjadi kebutuhan pokok. Penggunaan bahan organik yang berlebihan sebaiknya juga dihindari karena pemakaian bahan organik yang tinggi berpotensi juga sebagai pencemaran lingkungan sebagaimana halnya pupuk kimia.
Pertanian organik adalah bagian integral dari pertanian berkelanjutan. Ketersediaan material organik menjadi basis yang utama pada proses produksi pertanian. Sehubungan dengan ketersediaan awal material organik alami untuk daur ulang sangat terbatas/tidak selalu ditemukan di semua tempat, maka pengembangan pertanian organik menjadi bagian dari strategi jangka panjang pertanian berkelanjutan.
Salah satu aspek teknis yang terpenting pada pertanian berkelanjutan adalah peningkatan efisiensi pupuk. Hal ini akan dapat mewujudkan petani mengurangi pemakaian pupuk dan biaya produksi, sementara pengaruh hasil akibat pemakaian pupuk akan meningkat. Teknologi pertanian berkelanjutan secara umum membutuhkan pelatihan dan manajemen tingkat tinggi. Penyuluhan dan pendidikan akan memainkan peranan kunci dalam rangka pencapaian keberhasilannya.

Pada sistem pertanian berkelanjutan terdapat persoalan yang lebih kompleks, dan membutuhkan latihan manajemen yang lebih luas dari pada sistem yang digantikannya. Sehubungan dengan hal tersebut perlu upaya pencarian metoda pengintegrasiannya. Suatu instrumen yang dapat digunakan adalah pengendalian harga. Metoda pengendalian harga ini sangat ampuh, dan para petani bereaksi sangat kuat akan gagasan ini. Ada juga mekanisme yang lebih kompleks seperti pendidikan.

Bila dipandang dari sudut kebutuhan pangan masa depan maka penggunaan pupuk kelihatannya akan meningkat paling tidak dalam jangka pendek, dan masalahnya adalah bagaimana membuatnya berkelanjutan. Peningkatan teknologi pupuk sebaiknya dipertimbangkan, seperti pupuk yang dapat terurai dengan lambat.

Pertanian berkelanjutan membutuhkan titik temu dengan mengambil segi-segi terbaik dari pertanian organik dan non-organik. Salah satu aspek teknis yang terpenting pada pertanian berkelanjutan adalah peningkatan efisiensi pupuk. Hal ini akan dapat mewujudkan petani mengurangi pemakaian pupuk dan biaya produksi, sementara pengaruh hasil akibat pemakaian pupuk akan meningkat. Teknologi pertanian berkelanjutan secara umum membutuhkan pelatihan dan manajemen tingkat tinggi. Penyuluhan dan pendidikan akan memainkan peranan kunci dalam rangka pencapaian keberhasilannya.





III. PENGELOLAAN PERTANIAN ORGANIK



3.1 Prinsip-Prinsip Pertanian Organik

Dasar konsepsi pengelolaan pertanian organik adalah bahan organik, biologis dan ekologi pertanian. Dengan konsep ini, maka yang dimaksud dengan pertanian organik adalah pertanian yang bebas bahan kimia.

Prinsip-prinsip pertanian organik sebagaimana ditetapkan oleh International Federation of Organic Agriculture Movement (Organic Farming, 1990) adalah sebagai berikut:

a. menghasilkan pangan dengan kualitas gizi yang tinggi dan dalam jumlah yang mencukupi.

b. menerapkan sistem alami dan tanpa mendominasi alam.

c. mengaktifkan dan meningkatkan daur biologis di dalam sistem pertanian, melibatkan mikroorganisme, tumbuh-tumbuhan dan hewan.

d. meningkatkan dan memelihara kesuburan tanah.

e. menggunakan sumber-sumber yang dapat diperbaharui dalam sistem pertanian yang terorganisir secara lokal.

f. mengembangkan suatu sistem tertutup dengan memperhatikan elemen-elemen organik dan bahan nutrisi.

g. memperlakukan ternak secara alami.

h. mengurangi dan mencegah semua bentuk polusi yang mungkin dihasilkan dari pertanian.

i. memelihara keragaman genetik di dalam dan di sekeliling sistem pertanian, termasuk perlindungan tanaman dan habitat air.

j. memberikan pendapatan yang memadai dan memuaskan petani.

k. mempertimbangkan pengaruh sosial dan ekologis yang lebih luas dari sistem pertanian.



3.2 Perlakuan Pertanian Organik

Pertanian organik adalah suatu bentuk pertanian yang tidak menggunakan input sintesis seperti pestisida dan pupuk sehingga dapat menjaga keberlanjutan sistem dalam waktu yang tidak terhingga. Namun demikian, pertanian organik bukan sekedar pertanian tanpa bahan kimia. Pertanian organik menggunakan teknik-teknik seperti rotasi tanaman, jarak tanam yang mencukupi antar tanaman, penggabungan bahan organik ke dalam tanah dan penggunaan pengendalian biologi untuk menaikkan pertumbuhan tanaman yang optimum dan meminimumkan masalah hama. Pemakaian pestisida organik dipertimbangkan sebagai upaya terakhir dan digunakan dengan hemat.

Keberhasilan pertanian organik tergantung pada program pengelolaan penggunaan input-input secara intensif dalam rangka menghasilkan produktivitas tanaman yang optimum. Pelaksanaan pengelolaan pertanian organik terdiri atas:

a. penambahan bahan organik terdekomposisi.

b. rotasi tanaman untuk meningkatkan kesuburan dan mengurangi serangan hama dan penyakit.

c. memakai pupuk hijau dan tanaman penutup untuk memperbaiki kesuburan tanah, meningkatkan populasi organisme yang bermanfaat dan mengurangi erosi.

d. pengurangan pengolahan tanah (minimum tillage) untuk memperbaiki struktur tanah dan mengurangi erosi.

e. memakai tanaman penangkal (trap crops), jasad pengendali biologi dan teknik manipulasi habitat lainnya (seperti tumpang sari atau penggunaan pembatas) untuk mempertinggi mekanisme pengendalian biologi alami pada pertanian.

f. pembuatan zona penyangga dan pembatas untuk menandai area penghasil organik dan membantu melindungi area tersebut dari bahan-bahan terlarang. Zona penyanga ditanami dengan tanaman pemecah angin (wind breaker) atau tanaman yang bukan untuk dipanen.



Pertanian organik secara intensif pada tanaman hortikultura di negara-negara beriklim tropis agak kurang berkembang dibandingkan dengan negara-negara beriklim sedang (temperate) (Radovic and Valenzuela, 1999). Namun demikian dengan mempelajari perkembangan pertanian organik di daerah beriklim sedang tersebut dapat memperkaya pengetahuan yang ada pada daerah beriklim tropis untuk mengembangkan pertanian organik atau alami yang beradaptasi pada kondisi lingkungan lokal .


3.3 Pengaruh Terhadap Sifat Fisik Tanah

Hasil penelitian di Taiwan memperlihatkan bahwa lahan yang digenangi dalam rangka persiapan penanaman padi yang dicampur dengan pupuk organik lebih homogen dari pada lahan kering. Kerapatan padatan, total porositas dan stabilitas agregat permukaan tanah dapat diperbaiki dengan penerapan pertanian organik. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh tingginya tingkat bahan organik tanah pada pertanian organik. Yamada (1988) melaporkan bahwa dengan pemakaian kotoran sapi dalam jangka panjang, maka porositas tanah cenderung meningkat dan kerapatan padatan menurun dibandingkan dengan pemakaian pupuk kimia yang menyebabkan peningkatan kepadatan permukaan tanah.


3.4 Pengaruh Terhadap Sifat Kimia Tanah

Secara umum, kandungan bahan organik konsisten dengan jumlah pupuk organik yang ditambahkan. Total kandungan Nitrogen pada tanah dan kandungan ketersediaan Posfor dalam tanah pada lahan pertanian organik lebih tinggi dari pada lahan pertanian konvensional.

Percobaan Lin et al. (1973), Sommerfeldt et al. (1988), dan Reganold (1989) menyimpulkan bahwa dengan pemakaian pupuk organik pada lahan tanaman padi, menghasilkan kandungan bahan organik dan Nitrogen lebih tinggi dibanding dengan pemakaian pupuk kimia. Dalam percobaan Lin et al. (1973) ditemukan bahwa tingkat Mg, Ca, dan K yang dapat dipertukarkan pada perlakuan pupuk kandang dan pupuk hijau lebih tinggi dari pada hanya menggunakan pupuk kimia saja. Reganold (1989) menyatakan bahwa dalam jangka panjang pertanian organik dapat meningkatkan ketersediaan P, K, dan Ca dibandingkan dengan pertanian konvensional.


3.5 Pengaruh Terhadap Populasi Mikroba Tanah

Hampir semua mikroflora tanah adalah heterotrop yaitu menggunakan senyawa organik yang tersedia untuk memperoleh karbon dan enerji yang akan dipergunakan untuk kelanjutan metabolisme, pertumbuhan dan reproduksi. Perubahan aktivitas mikrobial tanah sering dihubungkan dengan perubahan input karbon ke dalam tanah sebagai hasil aplikasi pupuk kandang atau sisa tanaman. Fraser et al. (1988) menyimpulkan bahwa meningkatnya aktivitas mikrobial paralel dengan peningkatan kandungan karbon organik tanah, nitrogen dan pengisian pori-pori air.

Penerapan pertanian organik yang meningkatkan masukan pupuk kandang atau kompos termasuk polong-polongan (legume) dengan rotasi yang teratur dapat meningkatkan populasi mikroba dan aktivitas-aktivitas metabolisme, pertumbuhan dan reproduksi mikroba tanah.





IV. PRODUK DAN PASAR PERTANIAN ORGANIK



4.1 Produk Pangan Organik

Produk pertanian tanaman pangan organik segar yang paling banyak adalah buah-buahan dan sayuran. Disamping pangan organik segar tersebut, produk pangan organik yang paling populer di Asia adalah produk pangan olahan. Produksi pangan organik olahan masih sangat terbatas dilakukan oleh negara-negara di Asia Pasifik, kecuali di Australia, Selandia Baru dan Jepang.

Untuk negara-negara berkembang produksi pangan organik hanya berkisar pada produk pangan organik primary products atau yang belum diolah. India merupakan produsen utama buah-buahan dan sayuran herb organik serta rempah-rempah. Filipina merupakan produsen besar bagi pisang organik, dan Cina sumber madu organik dan sayuran organik. Jepang telah mengembangkan bisnis pertanian organik maupun industri pengolahan organik. Sedangkan sebagian besar produk pangan olahan, grains, dan beverages masih harus diimpor dari Eropa dan Amerika Serikat. Oleh sebab itu, peluang pengembangan produk pertanian dan industri pangan organik segar maupun olahan masih sangat luas dan menjanjikan (Winarno, 2003).



4.2 Pasar Pangan Organik dan Sertifikasi Produk

Pasar



Bisnis produk pangan organik terus mengalami perkembangan pesat di kawasan Asia Pasifik. Hal ini terjadi seirama dengan kepedulian konsumen yang semakin kuat terhadap isu kesehatan dan perubahan gaya hidup masyarakat. Munculnya berbagai isu kesehatan yang melanda dunia di bidang food scandal, seperti krisis Bovine Spongy Encephalopathy (BSE) atau yang lebih dikenal sebagai penyakit sapi gila, dan beberapa penyakit baru lain pada keju yang disebabkan bakteri E. coli 057:h-7 pada produk daging, dan Listeria monocytogenes, serta perubahan gaya hidup yang menimbulkan kesadaran masyarakat umum akan pentingnya mempertahankan kualitas lingkungan telah mendorong melonjaknya permintaan produk organik di Asia Pasifik.

Industri produk pangan organik di Eropa merupakan salah satu yang paling berkembang, dimana pangan organik dapat ditemukan di restoran cepat saji dan menu penerbangan. Sementara Amerika Serikat mulainya agak tertinggal, namun sedang bergerak menyusul Eropa. Penjualan hasil organik di Amerika Serikat mencapai US$809 juta pada tahun 1995, dan meningkat sebesar 20% per tahun.





Pada awalnya toko bahan pangan alami dan pasar tradisional menjadi tempat penjualan utama untuk produk organik di Amerika Serikat. Akan tetapi dengan meningkatnya ketertarikan konsumen, toko serba ada (supermarket) paling cepat berkembang dalam penyediaan bahan pangan organik, termasuk produk-produk segar. Buah-buahan dan sayuran organik sekarang dapat ditemukan pada rak-rak toko beberapa supermarket besar. Pada tahun 1996, sebanyak 75% dari total penjualan bahan pangan organik di Amerika Serikat berasal dari California yang luas areal pertanian organiknya hanya 7% dari total luas keseluruhan areal pertanian.

Walaupun konsumen di Jepang lebih cenderung untuk memakai produk-produk dalam negerinya dari pada produk impor, ternyata beberapa perusahaan Jepang mulai mengimpor buah-buahan dan sayuran organik. Sebagai contoh, perusahaan Daiei telah menandatangani kontrak dengan petani di Australia untuk memproduksi dan mengapalkan pisang organik ke Jepang untuk dipasarkan dengan label perusahaan Daiei. Labu dan bawang merupakan impor sayuran organik utama Jepang dari Amerika Serikat.

Pangsa pasar produk pangan organik yang terbesar di Asia Pasifik adalah Jepang, Australia, dan Selandia Baru, seperti terlihat pada Tabel berikut:



Tabel 1. Besarnya Pangsa Pasar Pangan Organik di Asia Pasifik

Negara


Nilai (US$)


Persentasi (%)

Jepang


250 juta


53,2

Australia


165 juta


35,1

Selandia Baru


36 juta


7,7

Lainnya (Asia)


19 juta


4,0

Sumber: Organic Monitor (2002) dalam Winarno (2003)




Sertifikasi produk



Sejak awal para konsumen menuntut adanya jaminan kepastian bahwa produk yang akan dibeli adalah benar-benar produk organik. Untuk itu dikembangkan sertifikasi produk yang menjadi suatu jaminan pada konsumen, pengecer dan pedagang perantara produk organik, bahwa produk dipastikan sebagai produk organik dan dihasilkan berdasarkan standar yang telah ditentukan oleh badan sertifikasi.

Produk organik menjadi semakin diminati karena sistem pertaniannya tidak menggunakan bahan kimia sintetis. Oleh karena itu bahan-bahan yang dilarang dalam proses produksi diantaranya adalah:

a. semua material kimia sintetis seperti pestisida, pupuk, pengatur tumbuh, dan lain-lain.

b. racun alami yang sangat beracun dan atau membutuhkan waktu yang cukup lama untuk terurai di alam, seperti warangan (arsenic), pestisida dari akar tanaman yang mengandung timah (lead rotenone), dan nikotin.

c. radiasi dengan ionisasi.



Dengan perkecualian terhadap bahan-bahan yang dapat terdekomposisi kurang dari empat bulan sebelum panen, atau sebelum pemasaran, sehingga tidak mengakibatkan terjadinya akumulasi bahan kimia beracun. Dalam peraturan ditetapkan bahwa minimum 95% bahan-bahan yang terdapat pada makanan organik harus diproduksi secara organik.

Sertifikasi merupakan isu kunci yang terpenting dalam perkembangan pertanian organik karena sangat diperlukan apabila ingin memasarkan berbagai macam produk organik yang dihasilkan oleh para petani saat ini. Karena alasan tersebut maka usaha-usaha peningkatan jumlah lembaga yang telah terakreditasi, yang berwenang mengeluarkan sertifikat produk organik sangat diperlukan terutama di Indonesia.



V. KENDALA DAN HAMBATAN PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK



Bila dipandang dari sudut kebutuhan pangan masa kini, maka penggunaan pupuk cenderung akan meningkat paling tidak dalam jangka pendek. Penggunaan pupuk organik harganya sangat mahal bila dipandang dari segi kandungan pupuk yang dibutuhkan. Untuk itu pemerintah dapat memberikan subsidi sehingga petani akan dapat memakai pupuk organik dengan harga yang wajar.

Oleh karena pupuk organik tidak seefisien pupuk kimia, maka disarankan agar para petani sebaiknya memakai pupuk kimia dalam jumlah minimum yang dibutuhkan untuk merangsang pertumbuhan tanaman dan penambahan pupuk organik dalam jumlah besar digunakan untuk meningkatkan produksi.

Hambatan-hambatan dalam pertanian organik menurut pengamatan petani adalah (Marsh and Runsten, 1997):

a. kurangnya pengetahuan tentang pertanian organik.

b. tidak adanya kerja sama atau tidak adanya penyuluh lapangan.

c. tidak tersedianya informasi tentang pertanian organik.

d. adanya tekanan dari pertanian konvensional.

e. kesulitan memperoleh kredit untuk pertanian organik



Metoda pertanian organik belum dapat diterapkan pada wilayah yang tidak memiliki dasar pertanian yang terpadu dengan peternakan, karena komponen utama yang digunakan untuk pupuk organik adalah kotoran ternak.

Untuk meningkatkan produktivitas pertanian organik, telah dikembangkan berbagai varietas unggul melalui pemanfaatan bioteknologi, termasuk manipulasi genetik untuk menciptakan varietas yang resisten terhadap dan penyakit, serta meningkatkan kualitas produk. Di lain pihak, organisme hasil modifikasi genetik (Genetically Modified Organism, GMO) juga telah mengakibatkan dampak dalam keberlanjutan pertanian organik dalam bentuk (Organic Farming Research Foundation, 2003):

a. adanya hasil pengujian kontaminasi yang positif dari GMO pada beberapa bagian benih organik, input atau produk-produk pertanian lainnya.

b. pelaksanaan pertanian organik telah menimbulkan beberapa biaya langsung atau kerusakan yang berhubungan dengan kehadiran GMO pada pertanian.



Pro dan kontra terhadap penggunaan tanaman transgenik dalam pertanian organik masih belum mencapai titik temu. Sementara itu, fakta memperlihatkan bahwa tanpa menggunakan tanaman transgenik (faktor keamanan pangan terjamin), keuntungan para petani masih besar.





VI. PELUANG PENERAPAN PERTANIAN ORGANIK DI INDONESIA



Sebagaimana diketahui bahwa salah satu prasyarat pertanian organik adalah ketersedian material organik dalam jumlah yang cukup untuk dimasukkan ke dalam tanah untuk proses daur ulang. Dengan kecukupan akan bahan-bahan ini akan dapat membantu suatu upaya pemecahan yang cepat pada masalah kekurangan pangan sekaligus menerapkan pertanian berkelanjutan. Dengan penerapan pertanian organik ini pemakaian pupuk yang mahal akan dapat dikurangi sehingga mengurangi biaya produksi.

Indonesia memiliki areal pertanian yang luas dengan tingkat kesuburan tanah yang relatif cukup baik, disamping itu banyak terdapat sisa-sisa pertanian yang potensial untuk dimanfaatkan sebagai bahan organik melalui proses daur ulang di dalam tanah, sehingga dapat menghasilkan Nitrogen dalam jumlah besar. Dengan demikian Indonesia mempunyai peluang yang besar untuk berhasil dalam penerapan pertanian organik dan dapat menjawab tantangan masalah ketahanan pangan secara berkelanjutan.




VII. KESIMPULAN


a. Pertanian organik adalah bagian integral dari pertanian berkelanjutan.
b. Dalam menghasilkan produktivitas tanaman yang optimum pada pertanian organik diperlukan program pengelolaan yang baik.
c. Sehubungan dengan ketersediaan komponen utama material organik alami seperti kotoran ternak untuk daur ulang mungkin terbatas, maka pertanian organik belum dapat segera dikembangkan di beberapa wilayah/negara.
d. Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan pertanian organik karena areal pertaniannya luas, relatif subur, dan dapat memproduksi bahan organik dalam jumlah besar.

e. Pengembangan pertanian organik membutuhkan keterampilan tinggi dan pengelolaan yang baik. Oleh karena itu, penyuluhan dan pendidikan akan memegang peranan kunci dalam keberhasilannya.

f. Untuk menjamin akses produk ke pasar, maka perlu diupayakan pembentukan lembaga terakreditasi yang berwenang mengeluarkan sertifikat produk organik di Indonesia.







DAFTAR PUSTAKA



Allen, P. and D. van Dusen. 1988. Sustainable Agriculture: Choosing the Future. In: Global Perspective on Agroecology and Sustainable Agricultural Systems. University of California, Santa Cruz, CA, USA.

Bolton, H. Jr., L. F. Elliott, R. I. Papendick and D. F. Bezdicek. 1985. Soil Microbial Biomass and Selected Soil Enzyme Activities: Effect of Fertilization and Cropping Practices. Soil Biology and Biochemical 17: 297-302.

EDWARDS, C.A., LAL, R., Madden, P., Miller, R.H House, G. (Ed). 1990 Suistainable Agricultural Systems. St Lucie Prees., Soil and Water Conservation Society, LOWA.

Fraser, D. G., J. W. Doran, W. W. Sahs and G. W. Lesoing. 1988. Soil Microbial Populations and Activities under Conventional and Organic Management. Journal of Environmental Quality 17: 585-590.

GILPIN, A. 1996 Dictionery of Environment and Suistainable Development. International Labour Organization. 2000. Sustainable Agriculture in a Globalised Economy. Geneva.

Lin, C. F., T. S. L. Wang, A. H. Chang and C. Y. Cheng. 1973. Effects of Some Long Term Fertilizer Treatments on the Chemical Properties of Soil and Yield of Rice. Journal of Taiwan Agricultural Research 22: 241-292.

Marsh, R. and D. Runsten. 1997. The Organic Produce Niche Market: Can Mexican Smallholders be Stakeholders. UCLA. Paper Prepared for the Project “The Transformation of Rural Mexico: Building an Economically Viable and participatory Campesino Sector”.

Organic Farming. 1990. Principles of Organic Farming. Stated by International Federation of Organic Agriculture Movements. USA.

Organic Farming Research Foundation. 2001. Organization Policy Statement on Genetic Engeneering in Agriculture. March 23.

Organic Farming Research Foundation. 2003. The 4th National Organic Farming Survey. Released by: Organic Farming Research Foundation. May 14.

Radovic, T. and H. Valenzuela. 1999. Organic Farming: An Overview of the Organic Farming Industry in Hawaii. Vegetable Crops Update Vol. 9 No. 1.

Reganold, J. P. 1989. Comparison of Soil Properties as Influenced by Organic and Conventional farming Systems. American Journal Alternative Agriculture 3: 144-145.

Sommerfeldt, T.G. and C. Chang and T. Entz. 1988. Long Term Annual Manure Applications Increase Soil Organic Matter and Nitrogen, and Decrease carbon to Nitrogen Ratio. Soil Science Social American Journal 52: 1668-1672.

UNDP dan OECD, 2002 Sustainable Development Strategies ( Resource book).

Wang, Y. and C. Chao. 1995. The Effect of Organic Farming Practices on the Chemical, Physical and Biological Properties of Soil in Taiwan. In: Sustainable Food Production in the Asian and Pacific Region. Food and Fertilizer Technology Center for the Asian and Pacific Region.

Winarno, F. G. 2003. Pangan Organik di Kawasan Asia Pasifik. Harian Kompas 10 Juni 2003.

Yamada, H. 1988. Some Experimental Results Obtained from the Studies on Technological Evaluation of Organic Farming and Gardening. Agricultural Technology 43: 433-437.


Beras Organik Usaha Beras Di Indonesia 021-73888872

No comments:

Keunggulan Beras Kami

  1. Ditanam di daerah bebas polusi
  2. Sistem pertanian terasering
  3. Sistem irigasi mata air pegunungan
  4. Bibit unggul
  5. 100% bebas pestisida
  6. Memiliki cita rasa dan ber efek therapy
  7. Vaccum packaging
  8. Uji Sucofindo
  9. Tahan Basi
Kata-kata Hikmah..! Jelang Pemilu, Jangan Golput ! Di Pemilu 2009